Pesan Tersembunyi

Setiap masalah yang terjadi di dalam hidup ini selalu mempunyai pesan-pesan tersembunyi jika kamu melihatnya dari berbagai macam perspektif. Apakah pesan-pesan itu berimplikasi positif ataupun negatif, itu semua tergantung dari perspektif dirimu sendiri. Akan tetapi, alangkah indah dan baiknya, jika sebuah masalah dalam kehidupan dilihat dari perspektif positif yang nantinya dapat membantu dirimu menjadi seseorang yang lebih baik.


Di sini aku hanya ingin bercerita mengenai kejadian semalam yang aku alami. Meskipun harus menghabiskan waktu senggangku sejenak untuk ini dan menelantarkan bagian metode penelitian pada skripsiku. Kejadian semalam yang aku alami sebenarnya tidak terlalu krusial, istimewa atau sebagainya. Jika aku boleh bersikap melankolis, justru itu adalah kejadian yang menyedihkan. Namun jika dilihat dari sisi yang berbeda, itu adalah kejadian biasa-biasa saja, yang tidak perlu dibesar-besarkan, atau bahkan sampai memaksaku untuk kembali menulis di blog ini dan menelantarkan tanggung jawabku.

Ada sesuatu dari kejadian semalam yang sangat penting. Sesuatu yang membuatku tergerak untuk menorehkan kata demi kata di halaman putih ini. Sesuatu yang sangat penting bagiku, karena dapat membuatku berhenti sejenak untuk menjadi seseorang yang berpandangan skeptis dalam memandang kehidupan.

Aku tumbuh di keluarga yang biasa-biasa saja, di mana menurutku peran dan sikap kedua orangtuaku sebagai orangtua tidak selalu membuatku ‘wah’, sehingga mendorongku untuk menyombongkan kedua orangtuaku yang ‘wah’ kepada orang lain. Tingkat ekonomi sosial keluargaku berada di tingkat menengah yang cenderung ke bawah. Walau dulu, bertahun-tahun yang lalu, ketika aku kecil, tingkat ekonomi keluargaku lebih baik daripada saat ini. Dan sadar atau tidak, kehidupan manusia seperti halnya dengan kehidupan binatang di hutan rimba, di mana yang kuat yang akan menang dan lemah yang akan kalah.

Aku yang sekarang, tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh itu semua.

Hidup di sebuah keluarga besar yang memiliki ikatan persaudaraan tanpa makna dan arti, saling tidak peduli satu sama lain, membuatku punya pandangan hidup seperti, “Aku percaya semua orang di dunia ini baik, namun mereka tidak saling peduli. Aku tidak percaya ada seseorang yang akan dengan senang hati membantuku begitu saja, terlebih aku bukan siapa-siapa dan mereka pastinya lebih mementingkan diri mereka sendiri.

Dan kejadian semalam berhasil membuatku sadar, mengetahui bahwa pandangan skeptisku tidak selamanya benar. Masih ada orang-orang di luar sana yang baik dan peduli kepada orang lain. Masih ada orang-orang di luar sana yang dengan senang hati berhenti sejenak mementingkan diri mereka sendiri, dan berusaha membantuku tanpa peduli aku adalah orang lain. Aku tidak peduli apakah ini buah dari karma baikku sendiri, sehingga ada orang-orang di luar sana yang berniat memberikan bantuan dan pertolongan mereka kepadaku di kemarin malam. Aku hanya ingin percaya, bahwa kejadian semalam hanya berusaha membuatku berhenti sejenak untuk berpandangan skeptis terhadap kehidupan yang aku jalani. Karena sesungguhnya, “Semua orang di dunia ini baik, mereka saling peduli satu sama lain. Seseorang akan dengan senang hati membantuku begitu saja, tidak peduli aku ini siapa. Hanya saja Tuhan tidak selalu memberikan momen-momen di mana pandangan ini benar setiap saat. Tuhan akan mewujudkan pandangan ini hanya di saat dirimu benar-benar membutuhkan bantuan dan pertolongan yang sesungguhnya.

Advertisements

Change

Saat waktu memaksa kedua kaki saya untuk melangkah naik menuju tangga kedewasaan, lingkungan memaksa saya untuk berubah.

Bahkan, para dosen di universitas selalu berkata tentang berubah, berubah, dan berubah. Mereka berkata, “Sebab semua yang ada dalam hidup tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri.” Mereka mengajarkan, “Alangkah bijaksananya, jika kita mengikuti setiap perubahan yang ada dan mengubah diri kita agar tidak kalah dengan perubahan tersebut.”

Saya, sebagai tipikal orang yang nyaman dengan kondisi yang ada dan takut untuk mencoba sesuatu yang baru dan tidak familiar bagi diri saya, memandang sebuah perubahan dengan pandangan skeptis dan berpikir untuk membangun dinding yang kokoh dan kuat sebagai perisai untuk melawan  hal tersebut.

Meskipun, beberapa bulan terakhir ini, saya menyadari diri saya telah melakukan beberapa perubahan dan tanpa saya sadari saya telah berubah sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus berdamai dengan perubahan dan bagian-bagian pada diri saya yang telah berubah. Sebab saya sadar, saya tetaplah saya, tidak peduli sebanyak apa saya berubah. Sebab perubahan itu datang secara alami, dari dalam diri saya sendiri, tanpa adanya paksaan maupun tuntutan dari lingkungan serta orang lain.