Mentertawakan diri sendiri untuk bahagia

Sudah lebih dari seminggu ini, gue selalu mentertawakan diri gue sendiri.

Kenapa? Apa mungkin gue udah mulai gila beneran dan terpaksa harus diangkut ke RSJ Grogol biar waras gue kembali? Kayaknya enggak deh. Gue masih tau caranya makan pakai tangan kanan secara baik dan benar, otak gue belum terlalu autis, walau daya khayal serta pikiran gue, mungkin menjauhi dari kata ‘normal’ dan mendekati kata ‘kurang waras’.

Jadi, mentertawakan diri sendiri bukan berarti gue udah gila kan? Itu gue lakukan hanya sekedar untuk have fun. Daripada gue kayak orang stress marah-marah ke diri sendiri, mendingan gue ngetawain diri gue yang gila dan agak autis ini.

Orang-orang yang ngeliatin gue, mungkin berpikir gue gila, terganggu, dan lebay. Tapi, emang dasar, gue orangnya sebodoan, gue gak peduli bagaimana pandangan mereka terhadap gue. Mereka gak kenal gue, makanya gak tau gue yang sebenarnya kayak gimana. Dasar orang yang matanya cuman sebelah, memang banyak banget di dunia ini.

Tapi, kadang-kadang, gue juga suka terusik kalau dipandang bagaimana dengan orang yang gue kenal. Misalnya, pas gue ngomong salah sama teman gue, dan teman gue bingung, dan kemudian gue menyadari, gue ngomongnya salah, gue malah ketawa keras-keras kayak orang gila, menganggap kalau itu lucu. Dan teman gue yang lain malah bilang gue lebay dengan nada sinis. Dan seketika, gue yang sebenarnya kadang suka sensitif ini, rasanya kepingin berdoa dan berharap sama Tuhan supaya teman gue itu besoknya mati mengenaskan. Tapi, yah, gue tau itu dosa dan salah. Jadi, gue enyahkan ajah pikiran itu dan lanjut ketawa kayak orang ayan. Hahaha.

Mungkin lo, lo semua, gak tau alasan gue kenapa gue suka mentertawakan diri gue sendiri.

Mungkin lo semua berpikir, emang dasarnya ajah gue yang gila dan aneh sering ketawa sendiri. Jadi kalau gue mentertawakan diri gue sendiri itu merupakan suatu hal yang wajar bagi seorang Marshella.

Tapi, bukan itu alasannya. Dasar pikiran lo sempit semua. Alasan kenapa gue sering mentertawakan diri gue sendiri adalah supaya gue bahagia. Mungkin kedengarannya aneh dan seketika di atas kepala lo semua ada tanda tanya gede akan kata-kata gue barusan.

Bgaimana menjelaskannya yah? Gue sendiri bingung.

Jadi, begini. Gue mentertawakan diri gue sendiri jika gue melakukan suatu kesalahan kecil yang konyol dan bodoh. Kebanyakan orang terkadang malah memaki-maki dirinya sendiri dan memarahi dirinya sendiri yang malah bikin dia terlihat bodoh dan konyol. Kalau gue melakukan kesalahan, gue lebih memilih ketawa dan mentertawakan kesalahan gue.

Misalnya, saat gue mengerjakan tugas PKN, yaitu menggambar logo atau bendera partai di kertas A3. Gue yang gak bisa gambar ini sudah bisa ditebak bagaimana hasil akhirnya nanti. Pasti jelek.

Dan.. bener banget, gambar gue begitu jelek apalagi pas bagian gambar padi dan kapas. Gambar padinya penyak-penyok pada bagian daunnya, begitu juga dengan gambar kapasnya. Lantas, gue yang udah mati-matian gambar itu semua dan lihat hasil gambar gue jelek kayak gitu, gue langsung ketawa. Gila, gambar gue konyol abis! Wkwkwk. Gue yang ingat ajah rasanya mau gegulingan sambil ketawa. Sumpah, gambar gue itu bikin perut rasa dikocok.

Sorry gue gak bisa menampilkan gambar gue yang jelek itu. Udah gue robek dan gue buang. Lagi tuh gambar terlalu hina untuk dipost di postingan ini karena bisa menjatuhkan harga diri gue yang tinggi ini. Jadi, gue deskripsikan ajah bagaimana gambar gue yang ancur itu.

Pertama, gue kasih tau kalau gue gambar logo partai PKPB (Partai Karya Peduli Bangsa). Yang gambarnya seperti ini.

Bisa dilihat pada bagian kanan dan kiri bintang ada gambar kapas dan padi. Pada bagian kapas, gue gambar kapasnya begitu gemuk-gemuk kayak kelebihan gula. Dan pada bagian padinya, daunnya gue gambar begitu artistik, yang jika dilihat bersamaan antara daun kanan dan kiri, gambarnya itu kayak kumis Pak Raden di film Unyil. Dan sumpah, pas bagian padinya itu gue ngakak. Bisa-bisanya gue gambar padi jadi gambar kumis Pak Raden. Bahkan, temen gue yang liat tuh gambar langsung ketawa koplak. Hahaha. Gue emang gak berbakat buat gambar.

Gue yang udah susah payah gambar, dan rasanya nyesek lihat gambar gue yang malah ancur kayak gitu, padahal gue udah mati-matian gambar, rasanya pengen marah-marah dan ngeluh. Tapi gue sadar, itu juga gak ada gunanya. Yang ada gue malah tambah capek. Jadi, pada saat itu, gue memilih untuk mentertawakan gambar gue dan diri gue sendiri yang bisa-bisanya gambar kayak gitu. Nilai plusnya gue bahagia dan entah kenapa gue jadi semangat buat berusaha gambar lagi dan kali ini, gue gambar hati-hati supaya nasibnya gak kayak gambar pertama!

Jadi sekarang, intinya, gue bingung. Kenapa? Padahal, niat gue pertama-tama nulis postingan ini buat menceritakan satu minggu gue yang banyak diisi dengan mentertawakan diri gue sendiri. Tapi, entah kenapa, gue malah buat postingan yang berakhir dengan sebuah petuah.

Lebih baik mentertawakan diri sendiri dibandingkan memarahi dan memaki diri sendiri. Memarahi diri sendiri dan memaki diri kita sendiri karena kita berbuat salah hanya akan menunjukkan betapa bodohnya kita. Kita yang berbuat salah, kenapa kita memarahi diri kita sendiri? Lebih baik kita berpikir bagaimana caranya menjadi lebih baik. Dan memarahi diri kita sendiri hanya akan menambah masalah di diri kita sendiri dan membuat kita menderita. Lebih baik kita mentertawakan diri kita sendiri. Kita bahagia dan otak kita pun tidak akan terlalu tertekan. Ingatlah di suatu hal negatif pun ada bagian positif.

– Marshella Riyanto 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s