Hari paling membahagiakan

Rabu, 29 Maret 2012

Sesuatu yang jarang bahkan belum pernah saya alami di Cikarang. Saat saya sedang memakai sepatu dan hendak berangkat ke sekolah, saya melongo melihat banyak asap putih di halaman rumah tempat saya nge-kos. Sampai akhirnya saya keluar rumah dan berjalan ke sekolah, saya baru sadar ada kabut di Cikarang, tepatnya di daerah Pilar atau Cabang. Sesuatu yang aneh bisa menemukan kabut yang cukup tebal di daerah panas dan terlihat gersang di Cikarang ini. Dan seketika itu juga, saya berdecak takjub dalam hati. Keren, Cikarang berkabut. Sekitar hampir 20 meter jalanan di depan tidak terlihat.

Tak cukup sampai di sana ketakjuban saya.

Sesampainya di sekolah, saya melihat lapangan basket dan lapangan voli, serta kelas X bilingual tidak terlihat karena tertutup kabut. Dan seketika itu juga, saya mengatakan, ‘Wow. Kereeen,’ di dalam hati saya. Melihat lapangan yang tidak terlihat sama sekali, dunia imajinasi saya mulai aktif. Saya mulai bertanya-tanya dan menduga-duga, jangan-jangan ada ultraman dan monster jahat sedang bertarung di tengah kabut tebal itu. Dan saya pun langsung bergidik ngeri tetapi tertawa dalam hati memikirkan imajinasi saya yang konyol. Tetapi, akhirnya saya berpikir, kabut yang menutupi lapangan itu sangat misterius dan menyeramkan. Semua mendadak abu-abu, dan membuat saya mengingat kedua teman saya, Febi dan Rere, yang sangat tergila-gila akan warna abu-abu.

Dan baru saat mengetik postingan ini saya terpikir, ternyata warna abu-abu lah yang memulai hari saya saat itu.

Sepulang sekolah, saya dilanda kegalauan. Bingung ingin pergi ke Hotel Sahid Jaya Lippo Cikarang atau tidak. Karena hari itu, di Hotel Sahid akan kedatangan seorang Bhikkhu yang sangat terkenal, yaitu Ajahn Brahm, yang sedang melakukan Tour d’Indonesia 2012.

Pada saat itu, saya bingung ingin memilih datang ke acara itu atau tidak. Jika saya datang, saya bingung akan pulang bersama siapa nantinya. Karena acaranya selesai sangat malam, jam 22.00. Saya sudah bertanya apakah teman saya ada yang bisa menemani saya dan pulang bersama saya atau tidak. Tetapi mereka semua tidak bisa dan  akan pulang bersama kenalan dan saudaranya. Saya jadi bimbang.

Jika saya pergi sendirian berarti saya pulang sendirian. Saya tidak tahu apakah pada jam segitu angkot di Lippo masih berkeliaran atau tidak. Seandainya tidak, saya takut dan bingung. Bagaimana caranya saya bisa pulang? Walau sebenarnya, saya bisa saja pulang ke rumah encek (paman) saya  yang tinggal di daerah Lippo. Tetapi saya enggan dan tidak mau merepotkan. Dan seandainya, jika ada angkot masih berkeliaran, beranikah saya pulang sendirian? Jawaban yang keluar dari diri saya saat itu adalah bergidik ngeri dan ketakutan.

Memikirkan hal itu, saya jadi malas dan lebih baik tidak datang ke acara di Hotel Sahid. Lagipula, saat saya minta izin ke papa saya, papa saya ragu mengizinkan dan takut kalau tiba-tiba di jalan pulang saya kehujanan dan kenapa-napa karena saya akan  pulang malam saat itu. Terlebih lagi saya bilang, bahwa saya masih bingung akan pergi dan pulang bersama siapa ke papa. Walau saya bilang, pulangnya saya bisa ke rumah paman malam itu, tetapi papa saya tetap ragu dan cemas, begitu juga dengan saya yang enggan merepotkan paman jika itu terjadi. Ditambah lagi ada tugas yang belum saya kerjakan yang menambah saya semakin malas untuk datang dan lebih ingin bermalas-malasan sambil mengerjakan tugas dan membaca novel di kamar.

Tetapi, saya pun berpikir dua kali apakah saya benar-benar tidak ingin datang.

Saya bertanya dalam hati apakah saya ingin datang atau tidak. Hati saya mengatakan ingin, walau rasa malas menyergap saya begitu dalam saat itu. Tetapi saya tahu, apa keinginan hati saya walau rasa malas berusaha membutakan hati saya. Dan akhirnya, saya nekat untuk pergi datang menghadiri acara itu dan bertemu Ajahn Brahm, semata-mata ingin mendengarkan ceramahnya. Lagipula tiket sudah di tangan, kesempatan terbuka lebar bagi saya untuk menemui seorang Bhikkhu yang begitu dieluh-eluhkan banyak orang karena kebijaksanaannya, bodoh sekali bagi saya jika saya menyia-nyiakan hal itu. Belum tentu Tuhan memberi kesempatan ini dua kali bagi saya, dan betapa saya tidak menghargai karma baik saya jika saya tidak datang ke acara itu, sementara pastinya masih banyak orang yang ingin hadir ke acara tersebut tetapi tidak bisa.

Saat saya memutuskan untuk datang atau tidaknya, sebenarnya karena dalam hati saya bertanya:

Apakah saya harus datang ke acara itu?
Karena saya ingin mendengarkan ceramah atau hanya sekedar ingin bertemu orang yang dikenal banyak orang dan pernah masuk TV ‘kah?
Apakah saya datang ke sana hanya ingin memuaskan nafsu keinginan saya?
Seberapa menderitanya saya jika saya tidak datang ke acara itu?

Saya yang memikirkan jawaban atas pertanyaan itu, akhirnya, saya memutuskan untuk datang.

Saat itu saya bertekad dalam hati:

Saya harus datang ke acara itu. Saya datang ke sana hanya karena ingin mendengarkan ceramah Ajahn Brahm karena dia Bhikkhu yang begitu terlihat bijaksana. Saya datang ke sana karena ingin memuaskan nafsu saya yang ingin belajar lebih bijaksana lagi dan mendengarkan Dhamma yang saya yakini bisa membuat saya bahagia. Dan jika saya tidak datang ke acara itu, saya akan selalu diliputi rasa menyesal dan sedih yang akan membuat saya menderita karena tidak melihat Ajahn Brahm yang banyak dibicarakan orang. Saya tidak peduli nantinya saya akan pulang bersama siapa dan naik apa untuk pulang. Saya bisa naik angkot sendiri atau naik ojek. Saya tidak takut. Saya ingin mendengarkan Dhamma. Jikalaupun saya kenapa-napa saat perjalanan pulang, itu tidak masalah. Karena sebelum itu saya sudah mendengarkan Dhamma yang pasti begitu indah. Sesuatu yang diinginkan selalu ada pengorbanan dan perjuangan. Dan saya akan berkorban apapun. Dan saya akan berjuang demi mendengarkan Dhamma.

Kata-kata saya yang terakhir, di dalam hati saya, sebelum saya berangkat begitu membahagiakan diri saya sendiri. Saya berbahagia karena saya mulai sadar dan mulai berbuat benar.

Saya akan berkorban dan berjuang untuk mendengarkan Dhamma.

Dan akhirnya, dengan kenekatan saya, sampailah saya di Hotel Sahid Jaya.

Telat 30 menit. Tapi tak apalah. Sangat mencerminkan saya sebagai orang Indonesia. Walau nantinya saya kikuk karena sendirian, saya tidak peduli.

Setibanya di sana, saya langsung bertemu teman saya yang menjadi penerima tamu. Saya memberi tiket saya kepada teman saya dan langsung masuk ke dalam aula besar. Saat saya datang, Ajahn Brahm belum ada. Hanya ada seorang bapak-bapak dan seorang pemuda sedang menjadi pembawa acara di atas panggung kecil. Walau sebenarnya, hanya si bapak-bapak yang menjadi pembawa acara, sementara si pemuda menjadi penterjemah Ajahn Brahm nantinya.

Sebelum Ajahn Brahm datang, bapak-bapak tersebut menampilkan video  biodata mengenai Ajahn Brahm. Dan saya hanya takjub melihat video tersebut. Biografi hidup yang begitu mengesankan. Dari seorang mahasiswa cerdas di salah satu universitas terkenal, sekarang menjadi seorang Bhikkhu bijaksana.

Dan setelah saya melihat video itu, beberapa menit kemudian Ajahn Brahm datang. Walau saya hanya bisa melihat dari jauh, terlihat jelas bahwa Bhikkhu itu memancarkan kebahagiaan dan kebijaksanaannya yang indah.

Saat memulai ceramahnya, Ajahn Brahm mengatakan bahwa nama “Brahm”-nya itu memiliki arti yang menyatukan agama-agama. Entah itu benar atau hanya cerita lucu Ajahn Brahm.

B yang berarti ‘B’uddhis. R untuk Katolik ‘R’oma. A untuk ‘A’lkitab Kristen Protestan.  H untu ‘H’indu. Dan, M untuk ‘M’uslim.

Saya yang mendengar hal itu hanya bisa kagum dan tertawa, juga bingung apakah itu benar atau tidak. Tetapi mendengar hal itu, saya hanya bisa bahagia karena jika sebenarnya arti nama ‘Brahm’ seperti itu adanya, semua agama menyatu dalam nama tersebut, bagai kedamaian yang indah jika hal itu terjadi.

Menit demi menit dilalui dengan rasa bahagia di hati saya kala mendengarkan Ajahn Brahm membabarkan Dhamma-nya. Diselingi dengan tawa dan tepuk tangan, Ajahn Brahm begitu hebat dan sangat bijaksana di mata saya.

Beliau mengajarkan saya saat itu untuk selalu berbaik hati dan merendahkan diri kepada orang lain. Tidak peduli diri sendiri dijadikan nomor dua karena terlalu welas asihnya kita kepada orang lain. Beliau juga bercerita banyak tentang dirinya

Ajahn mengajarkan saya untuk selalu menerima apa yang terjadi. Dan semua yang terjadi segalanya akan baik-baik saja jika kita selalu menerima dengan welas asih.

Seperti yang sering diucapkannya dan kata-katanya yang terdapat di dalam tiket saat acara itu:

All is Well.

Untuk semua yang telah terjadi,

TERIMA KASIH

Untuk semua yang akan terjadi,

BAIKLAH

Sampai ceramahnya selesai saya selalu berdecak kagum melihat dan mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Ajahn Brahm. Dan melihat teman-teman saya yang menjadi penerima tamu, saya menjadi kasihan dan merasa lebih beruntung karena saya bukan panitia dan bisa mendengarkan ceramah Ajahn Brahm dengan lebih leluasa.

Acara sebenarnya sudah mulai membosankan saat Ajahn Brahm telah selesai ceramah, dan acara dilanjutkan ke pelelangan barang-barang berbau Buddhis, yang nantinya dari uang lelang tersebut akan dijadikan sumbangan untuk kepentingan vihara dan lainnya yang berbau bakti sosial. Tetapi, entah kenapa, saya masih saja antusias untuk menonton. Walau beberapa kesempatan saya keluar dari ruangan aula dan membeli buku Ajahn Brahm yang baru, ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!’ untuk nanti, pada saat penghujung acara, akan ada sesi tanda tangan buku oleh Ajahn Brahm. Saya berniat membeli buku itu untuk mendapatkan tanda tangan penulisnya langsung secara cuma-cuma. Walau terbesit rasa bersalah baru membeli buku Ajahn Brahm ketika saya akan mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya. Tetapi saya tidak peduli. Toh akhirnya buku ini akan saya baca. Tanda tangan Ajahn Brahm di buku ini hanya akan menambah nilai plus buku ini saja, tidak lebih.

Dalam sekejap saja uang saya langsung habis membeli dua buku. Yang pertama buku Ajahn Brahm dan yang kedua buku Tipitaka Tematik. Ada perasaan menyesal sebenarnya ketika sadar uang saya habis. Tetapi saya yakini hati saya saat itu, saya membeli buku ini untuk belajar lebih bijaksana lagi. Ingat, apa yang diinginkan selalu butuh pengorbanan dan perjuangan. Hahaha. Betapa lucunya saya pikir saya saat itu. Entah otak saya kesambet apa, saya menjadi sangat bijak.

Selesai acara pelelangan, dilanjut ke acara talk show. Saya mendengarkan sangat antusias. Walau ada pertanyaan dan Ajahn Brahm menjawab pertanyaan itu dengan ceritanya yang pernah saya dengar sebelumnya di TV. Tetapi saya tetap mendengar talk show sampai talk show berakhir. Walau beberapa kesempatan saya curi-curi waktu untuk bertemu teman-teman saya. Hehehe..

Selesai acara talk show, saya langsung meminta tanda tangan Ajahn Brahm di buku saya setelah saya mengantri cukup lama. Betapa menyenangkannya saat itu, saya bisa melihat Ajahn Brahm secara dekat dan nyata. Senyumnya begitu bahagia dan tatapan matanya disoroti kebahagiaan yang tak bertepi. Cinta kasih terpancar penuh dari wajahnya. Walau banyak orang yang meminta photo bersama Ajahn Brahm tetapi saya tidak. Saya malu untuk meminta photo. Lagipula bisa bertemu secara langsung dan  bertatap muka dari dekat saja, rasanya sudah dapat membuat saya ingin melompat kegirangan.

Setelah mendapatka tanda tangan, saya langsung pulang. Setelah sebelumnya, saya bingung karena saya tidak melihat angkot lewat, saya hampir saja jalan ke halte bus yang sepi untuk menunggu angkot, sampai akhirnya saya sadar ada rombongan ibu-ibu menyebrang jalan dan saya mengikutinya, pastilah mereka hendak naik angkot juga. Beberapa menit menunggu, akhirnya saya naik angkot bersama orang-orang yang tidak saya kenal, tetapi mereka sama-sama mengikuti acara yang tadi saya ikuti. Saya jadi merasa beruntung dan tidak takut. Ajahn Brahm tadi sudah memberkati saya dengan doanya saat di aula, saya yakin saya bisa pulang ke rumah dengan selamat. Walau belum tentu hasilnya seperti itu juga.

Jam di handphone sudah menunjukkan pukul 11 malam saat saya sampai rumah. Gara-gara angkot ke Pilar lama ngetemnya jadi pulang jam 11, padahal saya bisa sampai rumah jam setengah 11. Saya yang marah dan memaki-maki si tukang angkot dalam hati, pada akhirnya pun mendoai si tukang angkot itu sebelum saya tidur. Saya tau, jika tidak ada si tukang angkot itu saya tidak akan sampai rumah.

Well, postingan ini panjang sekali. Hari yang begitu membahagiakan sudah sepantasnya di posting di blog! Hahaha😀

Jika saya sendiri membaca postingan ini, saya pasti bingung. Apa ada yang salah dengan otak saya? Kenapa saya bisa membuat postingan yang mencerminkan diri saya begitu bijak? Hahaha..

Well, selepas dari pikiran itu, nyatanya inilah saya. Terkadang saya pun bisa bijak juga. Walau saya jarang menunjukkan hal itu. Akhir kata dalam postingan, saya ucapkan ‘All is well’. Semoga semua makhluk hidup berbahagia😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s